Advertisement
Banda Aceh, Nasional.Top — Jamaah Thariqat Naqsyabandiyah Darul Ulumuddiniyah akan menggelar Acara Zikir, Tabligh dan Tawajuh Akbar Thariqat Naqsyabandiyah Darul Ulumuddiniyah se-Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Sabtu malam, 8 Agustus 2026.
Kegiatan yang dijadwalkan mulai pukul 20.30 WIB hingga selesai tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus penguatan tradisi zikir, tabligh dan tawajuh di kalangan jamaah Thariqat Naqsyabandiyah Darul Ulumuddiniyah dari berbagai wilayah Aceh.
Kegiatan tersebut akan dipimpin Mursyid Abon H. Ismail Arsyad. Sementara tausiah atau tabligh dalam kegiatan tersebut akan disampaikan oleh Syekh Akbar KH. Muhammad Fathurrahman, M.Ag, Rois Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN).
Kegiatan tawajuh memiliki posisi penting dalam tradisi spiritual Thariqat Naqsyabandiyah Darul Ulumuddiniyah. Sejarah Darul Ulumuddiniyah sendiri berakar pada perjuangan Abuya Syekh H. Muhammad Yatim bin Murabby Al-Khalidy, ulama yang lahir di Desa Pawoh, Labuhan Haji, Aceh Selatan, pada 1328 H/1907 M. Ia merupaman pendiri sekaligus tokoh utama yang mengembangkan Dayah Darul Ulumuddiniyah di Rambong, yang kini berada di Kecamatan Setia, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Riwayat pendidikan dan perjalanan keilmuan Abuya Muhammad Yatim memperlihatkan panjangnya proses pembentukan seorang ulama. Ia tidak hanya menempuh pendidikan agama di sejumlah dayah di Aceh, tetapi juga melanjutkan pendidikan ke Makkah Al-Mukarramah serta memperoleh ijazah dalam bidang keilmuan agama dan thariqat.
Pada 1917 Abuya Muhammad Yatim menamatkan pendidikan Volks School Pemerintah Hindia Belanda di Labuhan Haji. Kemudian pada 1924–1930, ia belajar ilmu agama Islam di Pesantren Jam'iyah Alkhairiyah di Kedai Taluk, Labuhan Haji, di bawah pimpinan Tgk. M. Ali Lampisang.
Setelah itu, pada 1930–1932, Abuya Muhammad Yatim melanjutkan pendidikan di Pesantren Bustanul Huda Blangpidie di bawah pimpinan Tgk. Syekh Mud. Selanjutnya, pada 1932–1940, ia belajar di Pesantren Darul Irfan Panton Labu, Aceh Utara, di bawah pimpinan Tgk. H. Ibrahim bin Arif.
Pada 1940–1943, Abuya Muhammad Yatim dipercaya menjadi Qadhi Nikah di Panton Labu, Aceh Utara. Setelah itu, pada 1943–1949, ia mengajar ilmu agama Islam sekaligus mendirikan Pesantren/Dayah Darul Huda di Suaq, Kecamatan Tangan-Tangan, Aceh Selatan.
Perjalanan keilmuannya kemudian berlanjut ke Tanah Suci. Pada 1949–1952, Abuya Muhammad Yatim belajar ilmu agama dan ilmu umum di Pesantren Darul Ulumuddiniyah Syi'ib Ali, Makkah Al-Mukarramah, di bawah pimpinan Syekh H. Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani.
Di Makkah pula ia memperdalam ilmu thariqat dan suluk kepada Syekh Ibrahim bin Kutab Al-Mandaily yang bermukim di Jabal Abi Qubais. Dari gurunya tersebut, Abuya Muhammad Yatim memperoleh ijazah sebagai Mursyid.
Setelah kembali ke Aceh pada 1952, ia kemudian membina dan memimpin Pondok Pesantren Darul Ulumuddiniyah di Desa Rambong, Suaq, Kecamatan Tangan-Tangan—yang kini masuk wilayah Kecamatan Setia, Aceh Barat Daya.
Abuya Muhammad Yatim memiliki sejumlah guru di Aceh dan Sumatera Utara, antara lain Tgk. Zakaria Labai Sati, Tgk. Usman Labuhan Haji, Tgk. Putih Labuhan Haji, Tgk. Muhammad Ali Lampisang, Tgk. Syeikh Mahmud Blangpidie, Tgk. Abu Bakar Blang Pidie, Tgk. Labaidin Susoh, Syeikh Abdul Ghani al-Kamfari, Tgk. Hasballah Indrapuri, Tgk. H. Ibrahim Arif Panton Labu, Tgk. Nur Tanjung Pura, Tgk. Abdul Jalil Cot Plieng, dan Tgk. H. Hasan Krueng Kale.
Sementara di Makkah Al-Mukarramah, nama-nama guru yang disebut dalam riwayat tersebut antara lain Syekh Yasin Isa Al-Fadany, Syekh Hasan Muhammad Masyat, Syekh Mansur, Syekh Hayat, Syekh Ibrahim bin Kutab, Syekh Ismail, Said Alwy, Syekh Maghriby, Syekh Jalil, Syekh Imam Syafi'i dan Syekh Abdullah.
Jaringan keilmuan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual Abuya Muhammad Yatim sebelum kemudian mengembangkan pendidikan Islam dan thariqat di Aceh.
Sepeninggal Abuya Muhammad Yatim, perjuangan pendidikan dan pengembangan Dayah Darul Ulumuddiniyah dilanjutkan oleh putranya, Abuya Syeikh H. Abdussalam Ghaliby.
Abuya Abdussalam Ghaliby lahir di Panton Labu, Kecamatan Jamboe Aye, Aceh Utara, pada 28 Agustus 1943. Ia merupakan putra Abuya Muhammad Yatim bin Murabby Al-Khalidy dan Yusri binti Abu Bakar. Abuya Abdussalam kemudian menjadi pimpinan Dayah Darul Ulumuddiniyah di Desa Rambong, Kecamatan Setia, Aceh Barat Daya.
Dalam perjalanan pengabdiannya, ia pernah menjadi guru Dayah Darul Ulumuddiniyah, kepala guru, mengikuti pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Fakultas Ushuluddin Program Studi Dakwah dan Bahasa, menjadi bagian dari Dewan Mursyidin Persatuan Pembela Thariqat Islam (PPTI), serta terlibat dalam kelembagaan ulama di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya.
Ia juga memimpin Yayasan Murabbi Dayah Darul Ulumuddiniyah dan menjadi mursyid Thariqat Naqsyabandiyah yang berpusat di dayah tersebut. Terakhir ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pembina Cabang Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) Kabupaten Aceh Barat Daya. Abuya Abdussalam Ghaliby wafat pada 18 November 2024 di RSUD Teungku Peukan, Aceh Barat Daya, dalam usia 81 tahun.
Dalam tradisi Naqsyabandiyah, silsilah merupakan salah satu bagian penting yang menunjukkan kesinambungan transmisi spiritual dan keilmuan dari seorang mursyid kepada muridnya.
Rangkaian utama yang tercantum dalam kedua tradisi tersebut bermuara kepada Nabi Muhammad SAW melalui Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, kemudian diteruskan melalui Salman Al-Farisi dan sejumlah tokoh sufi hingga mencapai Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi. Dari Bahauddin an-Naqsyabandi, mata rantai tersebut berkembang melalui sejumlah tokoh besar, di antaranya Syekh Ya'qub Al-Jarkhi, Ubaidullah Al-Ahrar, Muhammad Al-Baqi Billah dan Syekh Ahmad Al-Faruqi As-Sirhindi.
Rangkaian tersebut kemudian memasuki fase Mujaddidiyah dan berlanjut kepada Syekh Khalid Al-Kurdi, tokoh yang menjadi salah satu mata rantai terpenting dalam perkembangan Naqsyabandiyah Khalidiyah. Dari titik inilah jaringan Khalidiyah berkembang ke berbagai kawasan, termasuk dunia Islam di India, Timur Tengah, Makkah, hingga Asia Tenggara.
Silsilah yang diwariskan oleh Dayah Darul Ulumuddiniyah, mata rantai setelah Syekh Khalid Al-Kurdi diteruskan melalui: Syekh Abdullah Al-Affandi → Syekh Sulaiman Al-Quraimi → Syekh Sulaiman Az-Zuhdi → Syekh Ibrahim bin Kutab Al-Mandaily → Abuya Syekh H. Muhammad Yatim bin Murabby Al-Khalidy.
Silsilah ini lebih ringkas dibanding jalur Naqsyabandiyah Khalidiyyah al-Waliyah yang merupakan jalur naqsyabandiyah terbesar di Aceh saat ini.
Adapun, jalur Naqsyabandiyah Al-Waliyah yang dikembangkan oleh Abuya Syekh H. Muhammad Wali Al-Khalidy, atau yang lebih dikenal sebagai Abuya Muda Waly, bersumber dari: Syekh Abdullah Al-Affandi → Syekh Ismail Jamil Al-Minangkabawi → Syekh Sulaiman Al-Quraimi → Syekh Sulaiman Az-Zuhdi → Syekh Usman Al-Fauzi → Syekh Yusuf Al-Fani → Syekh Abdul Ghani Al-Kamfari → Syekh Tgk. H. Muhammad Wali Al-Khalidy.
Menariknya, hubungan antara Abuya Muhammad Yatim dan Abuya Muda Waly tidak hanya dapat dilihat dari silsilah tarekat. Keduanya juga memiliki hubungan dalam lingkungan pendidikan Islam Aceh. Abuya Syekh Muhammad Yatim Al-Khalidy pernah belajar bersama Abuya Syekh Muhammad Wali Al-Khalidy kepada Abu Tgk. Muhammad Ali Lampisang di Labuhan Haji dan Abu Tgk. Syekh Mud di Blangpidie.
Alm. Abuya Prof. Dr. H. Tgk. Muhibbuddin Waly al-Khalidy dalam Surat Thauliyah yang ia tandatangani pada 16 Juni 1991 menyatakan bahwa jalur Thariqat Naqsyabandiyah yang diterima dari Alm. Syekh H. Muhammad Yatim Al-Murabby memiliki hubungan dengan jalur Thariqat Naqsyabandiyah dari Alm. Syekh H. Muhammad Waly Al-Khalidy, yang diibaratkan sebagai “Kuala besar”. Hingga saat ini, Darul Ulumuddiniyah dan Al-Waliyah merupakan dua jaringan penting dalam sejarah perkembangan Naqsyabandiyah di Aceh.
Acara Zikir, Tabligh dan Tawajuh Akbar se-Aceh di Masjid Raya Baiturrahman ini diharapkan menjadi momentum untuk kembali menghidupkan semangat zikir, ilmu, adab dan silaturahmi di tengah masyarakat.
Selain sebagai majelis zikir dan penguatan spiritual, kegiatan tersebut juga memiliki nilai penting sebagai sarana silaturahmi antarguru, mursyid, khalifah, jamaah, alumni dan masyarakat yang memiliki hubungan dengan tradisi keilmuan Darul Ulumuddiniyah. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu majelis keagamaan yang mempertemukan jamaah dari berbagai penjuru Aceh dalam suasana penuh kekhusyukan dan persaudaraan.

