Nasional.Top

lisensi

Advertisement

Advertisement
Redaksi
Selasa, 25 Agustus 2026, 15:06 WIB
Last Updated 2026-08-25T11:35:21Z
ActivismCultureNasional.TopNews

Piasan Budaya Barat Selatan Aceh 2026 Resmi Ditutup, Pemkab Abdya Apresiasi Kiprah Action Menjaga Sejarah dan Budaya

Advertisement

Nasional.Top | Susoh — Rangkaian Piasan Budaya Barat Selatan Aceh Tahun 2026 resmi ditutup di Museum Susoh, Gampong Padang Hilir, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa, 25 Agustus 2026.


Penutupan kegiatan yang dirangkaikan dengan Adat Khanduri Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut dihadiri Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya yang diwakili Staf Ahli Bidang Keistimewaan Aceh, Sumber Daya Manusia, dan Kerja Sama, Nazaruddin, S.Pd., M.M.


Sejumlah unsur turut hadir, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, budayawan, akademisi, kepala sekolah, para keuchik, pelaku UMKM, insan pers hingga masyarakat.


Piasan Budaya yang digagas Aceh Culture and Education (ACTION) tersebut telah berlangsung sejak 21 Agustus 2026 dengan menghadirkan pameran terbuka yang mengangkat kekayaan sejarah dan kebudayaan kawasan Barat Selatan Aceh.


Dalam sambutan Bupati Aceh Barat Daya yang disampaikan pada acara penutupan, pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada ACTION dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.


Menurut Pemkab Abdya, Piasan Budaya memiliki makna lebih besar daripada sekadar pameran. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membuka kembali perjalanan sejarah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat, khususnya generasi muda.


“Ketika kita menampilkan benda-benda bersejarah, kain tradisional, peninggalan arkeologi, karya filologi maupun berbagai produk budaya masyarakat, sesungguhnya kita sedang membuka kembali lembaran perjalanan daerah kita,” demikian disampaikan dalam sambutan Bupati Abdya.


Pemerintah daerah juga menegaskan bahwa museum tidak semestinya hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda lama.


Museum harus menjadi ruang pembelajaran tempat generasi muda dapat bertemu dengan sejarahnya sendiri, memahami perjalanan daerah, serta menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya.


Aceh Barat Daya memiliki kekayaan budaya yang meliputi tradisi, bahasa, kesenian, adat, peninggalan sejarah dan berbagai kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat.


Karena itu, tantangan pelestarian budaya saat ini bukan hanya mempertahankan keberadaannya, tetapi bagaimana membuat budaya tetap dikenal, dipahami, dicintai dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Ketua DPP Aceh Culture and Education (ACTION), Aris Faisal, S.H., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya dan seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Piasan Budaya.


Aris mengulas perjalanan ACTION dalam menjalankan kerja-kerja pelestarian kebudayaan, penelitian serta pengenalan sejarah kepada masyarakat.


Menurutnya, Piasan Budaya menjadi momentum untuk mempertemukan hasil penelitian dan kerja kebudayaan dengan masyarakat secara langsung.


Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan akhir dari perjalanan ACTION.


“Perjalanan ACTION tidak berhenti pada satu kegiatan. Piasan Budaya ini adalah bagian dari proses panjang untuk membangun kesadaran bahwa sejarah dan kebudayaan harus dirawat bersama,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan Aris.


Dalam kesempatan tersebut, Aris juga menyampaikan agenda organisasi ACTION ke depan, termasuk persiapan Muktamar ACTION Tahun 2026.


Muktamar tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kelembagaan sekaligus menentukan arah gerak organisasi dalam bidang penelitian, pelestarian dan pemajuan kebudayaan.


Menurut Aris, penguatan organisasi penting agar kerja-kerja kebudayaan dapat dilakukan secara lebih terarah, berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.


Sementara itu, Ketua Panitia Piasan Budaya Barat Selatan Aceh Tahun 2026, Rozal Nawafil, S.Tr.IP., M.M., dalam laporan panitia menegaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari kepedulian terhadap sejarah dan kebudayaan kawasan Barat Selatan Aceh.


Piasan Budaya menghadirkan berbagai pameran, mulai dari arkeologi, etnografi, wastra, filologi, historika hingga numismatika.


Pameran arkeologi menampilkan sejumlah temuan lepas hasil penelitian ACTION di kawasan Pantai Barat Selatan Aceh.


Benda-benda tersebut tidak hanya dipamerkan sebagai artefak, tetapi juga menjadi sumber informasi mengenai kehidupan manusia, perdagangan, teknologi dan peradaban yang pernah berkembang di kawasan tersebut.


Selain itu, pameran etnografi menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat Pantai Barat Aceh beserta nilai sosial, filosofis, adat dan tradisi yang menyertainya.


Piasan Budaya juga menghadirkan Desa Budaya Seuneulop, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya, dan Desa Budaya Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat.


Kehadiran dua desa budaya tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan bukan benda mati, melainkan sesuatu yang terus hidup melalui pengetahuan, keterampilan, tradisi dan praktik masyarakat.


Dalam laporan panitia, Rozal juga menegaskan bahwa Barat Selatan Aceh memiliki perjalanan sejarah dan peradaban yang panjang.


“Barat Selatan Aceh bukanlah halaman belakang sejarah Aceh. Kawasan ini memiliki sejarahnya sendiri,” demikian salah satu pesan yang disampaikan.


Karena itu, menurut panitia, masih banyak situs, manuskrip dan cerita sejarah di kawasan Barat Selatan Aceh yang perlu didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.


Penutupan Piasan Budaya tahun ini dirangkaikan dengan Adat Khanduri Maulid Nabi Muhammad SAW. Rangkaian kegiatan diawali dengan Dalail Khairat oleh santri Dayah Babul Istiqamah Gampong Padang Hilir, Susoh, kemudian dilanjutkan pembukaan acara, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa, sambutan-sambutan, pemberian Anugerah Kebudayaan, ceramah Maulid dan makan bersama. 


Adapun ceramah Maulid disampaikan oleh Ustadz H. Fauzan Basri, Lc., M.A. Pimpinan Dayah Terpadu Al-Munjiya Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan.