Nasional.Top

lisensi

Advertisement

Advertisement
Redaksi
Jumat, 10 April 2026, 23:07 WIB
Last Updated 2026-04-10T16:36:05Z
ActivismEntertainmentNews

Monolog Perjuangan Teuku Ben Mahmud Tampil Memukau di Upacara HUT Ke-24 Abdya

Advertisement
Rozal Nawafil membawakan Monolog Perjuangan Teuku Ben Mahmud

Nasional.Top | Blangpidie — Penampilan monolog perjuangan pahlawan Aceh Barat Daya, Teuku Ben Mahmud Setia Radja, menjadi salah satu momen paling berkesan dalam Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang digelar di Lapangan Persada, Gampong Keude Siblah, Blangpidie, Jumat (10/4/2026).


Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Abdya, Safaruddin, dan diikuti ribuan peserta dari berbagai unsur. Hadir pula Wakil Bupati Zaman Akli, Ketua DPRK Roni Guswandi, unsur Forkopimda, anggota DPRK, Sekretaris Daerah, para asisten dan staf ahli, tokoh pemekaran, tokoh agama, tokoh adat, kepala SKPK, camat, keuchik, ASN, serta personel TNI dan Polri. 


Turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Sekretaris Daerah Aceh Selatan, serta diaspora Abdya dari berbagai wilayah. Sejumlah organisasi kemasyarakatan, OKP, pelajar, dan tamu undangan lainnya juga memeriahkan kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut.


Dalam rangkaian acara, monolog Teuku Ben Mahmud tampil sebagai sajian terakhir dan menyedot perhatian. Monolog berdurasi sekitar 10 menit itu dibawakan oleh Rozal Nawafil, penulis buku Teuku Bentara Mahmud Setia Radja, Pahlawan Besar Perang Aceh.


Sebelum penampilan utama, prolog tentang sosok Teuku Ben Mahmud dibacakan oleh Hasanul Amri, penulis buku Peran Generasi Muda dalam Pembentukan Kabupaten Aceh Barat Daya. Keduanya merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tampil mewakili komunitas Aceh Culture and Education (ACTION), di mana Rozal menjabat sebagai Sekretaris DPP ACTION dan Amri sebagai Kepala Balitbang ACTION.


Diiringi musik yang menggugah, Rozal membawakan kisah perjuangan Teuku Ben Mahmud dengan penuh penghayatan. Narasi yang disampaikan menggambarkan kepemimpinan sang tokoh dalam perang gerilya melawan kolonial Belanda di wilayah Pantai Barat Selatan Aceh. Monolog tersebut juga menyoroti peristiwa penting, termasuk serangan besar yang dilancarkan pada 7 April 1901 di Blangpidie.


Penampilan tersebut sukses membangkitkan emosi para peserta upacara. Sejumlah penonton tampak terharu dan merasakan semangat perjuangan yang kuat. “I beudoh bule,” ujar salah seorang penonton dalam bahasa Aceh yang berarti merinding, menggambarkan kesan mendalam dari pertunjukan tersebut.


Di akhir penampilan, tepuk tangan meriah menggema di lapangan upacara. Bahkan, Bupati Safaruddin memberikan standing ovation sebagai bentuk apresiasi atas monolog yang dinilai mampu menghidupkan kembali semangat perjuangan para pahlawan daerah.


Monolog ini tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi sejarah, khususnya bagi generasi muda, agar lebih mengenal tokoh-tokoh lokal yang berjasa dalam perjuangan melawan penjajahan.


Melalui penampilan tersebut, nilai-nilai keberanian, semangat juang, dan kecintaan terhadap tanah air yang diwariskan Teuku Ben Mahmud diharapkan terus hidup dalam jiwa masyarakat Abdya, sebagai inspirasi dalam membangun daerah menuju masa depan yang lebih baik.