Advertisement
Nasional.Top | Nagan Raya — Dewan Pimpinan Pusat Aceh Culture and Education (ACTION) bersama Museum Susoh melaksanakan penelitian lapangan sekaligus ziarah sejarah ke kawasan Puloe Ie, Kabupaten Nagan Raya, pada 18 April 2026. Kegiatan ini difokuskan pada penelusuran jejak peradaban melalui situs makam Habib Seunagan dan kompleks makam kuno Cut Wan.
Rombongan tim yang terdiri dari unsur DPP ACTION dan Museum Susoh disambut langsung oleh keluarga besar Habib Seunagan, yakni Teuku Zuhrial Fadlul Aziz yang juga menjabat sebagai Ketua DPW ACTION Nagan Raya. Turut hadir dalam tim penelitian di antaranya Teuku Ilham Apriliansyah, Sayyid Habiburrahman, Assauti Wahid, Gunaji Purnomo, serta Teuku Halfi Hamdillah, yang merupakan cicit dari Teuku Ben Seunagan.
Jejak Ulama Tarekat dan Spirit Perlawanan
Habib Seunagan, yang memiliki nama lengkap Sayyid Abdurrahim bin Sayyid Abdul Qadir, dikenal sebagai tokoh utama penyebar Tarekat Syattariyah di wilayah Seunagan. Dengan gelar Qutbul Wujud, ia menempati posisi penting dalam tradisi tasawuf Aceh dan menjadi poros spiritual yang berpengaruh di Pantai Barat Selatan.
Silsilah perjuangannya berlanjut melalui putranya, Sayyid Muhammad Yasin (Teungku Padang Siali), hingga cucunya, Habib Muda Seunagan (Sayyid Muhammad Muhyiddin/Abu Peuleukung), yang dikenal sebagai tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan sekaligus penyebaran tarekat.
Penelitian ini juga menguatkan keterkaitan antara jaringan ulama tarekat dengan gerakan perlawanan rakyat Aceh. Dalam buku Teuku Bentara Mahmud Setia Raja: Pahlawan Besar Perang Aceh, dikutip laporan Kontroler Tapaktuan yang menyebutkan bahwa Teuku Ben Mahmud yang sempat mengungsi ke wilayah Gayo, kembali ke pesisir pada Oktober 1899 dan membentuk kekuatan baru di Meukek dengan mengangkat Habib Seunagan sebagai panglima.
Pasukan ini sempat menguasai daerah perbukitan di sekitar Dama Tutong, namun kemudian berhasil dipukul mundur oleh patroli Belanda di bawah pimpinan Letnan Habraken. Selanjutnya, pada 31 Oktober, patroli Belanda yang dipimpin Sersan Zasiman dengan kekuatan sekitar 45 bayonet kembali bentrok dengan pasukan Habib Seunagan di wilayah Batee Tunggai. Dalam pertempuran tersebut, dua orang dari pihak pasukan Habib gugur, sementara pihak Belanda berhasil merebut satu senapan dan sejumlah senjata tajam.
Namun demikian, Sekretaris DPP ACTION, Rozal Nawafil, yang juga penulis buku tersebut mengungkapkan adanya kemungkinan perbedaan identitas tokoh “Habib Seunagan” yang dimaksud dalam peristiwa 1899 tersebut. Hal ini disebabkan karena Habib Seunagan bergelar Qutbul Wujud diketahui telah wafat sebelum tahun 1894.
Dalam catatan Snouck Hurgronje, Habib Seunagan disebut wafat secara damai beberapa tahun sebelum 1894 dan sebelumnya dikenal sebagai Teungku Peunado, merujuk pada asalnya dari wilayah Pidie. Meski demikian, pengaruh spiritualnya terus berlanjut dan menjadi fondasi dalam membangun semangat perlawanan masyarakat.
Dalam De Atjehers, Snouck mencatat bahwa pada tahun 1902, peran spiritual Habib Seunagan telah digantikan oleh seorang tokoh yang disebut sebagai “Teungku di Krueng”. Identitas tokoh ini masih memerlukan kajian lebih lanjut—apakah yang dimaksud adalah Teungku Padang Siali (ayah dari Habib Muda Seunagan) atau keturunannya yang lain.
Yang jelas, baik Teungku Padang Siali, putranya (Habib Muda Seunagan), maupun keponakannya (Teungku Putik) merupakan bagian dari jaringan ulama pejuang Aceh yang tidak hanya berperan dalam dakwah, tetapi juga dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Sementara itu, Habib Muda Seunagan dalam catatan Snouck juga telah menunjukkan pengaruh yang cukup besar pada tahun 1910. Sosok yang disebut sebagai Teungku Puteh atau Teungku Muda Mat Said Pulo Ie itu bahkan dicatat memiliki hubungan yang erat dan patuh terhadap kepemimpinan Teuku Ben Mahmud Blangpidie.
Keterkaitan antara kekuatan spiritual dan perjuangan fisik ini memperlihatkan bahwa ulama tarekat tidak hanya berperan dalam membina kehidupan keagamaan, tetapi juga menjadi motor penggerak resistensi terhadap kolonialisme, termasuk dalam jaringan perjuangan yang melibatkan Teuku Ben Mahmud.
Makam Kuno dan Indikasi Peradaban Abad ke-17
Selain ziarah ke makam Habib Seunagan, tim juga melakukan observasi dan pendataan terhadap sejumlah kompleks pemakaman kuno di kawasan tersebut. Salah satu yang menjadi fokus adalah makam Cut Wan yang telah diidentifikasi sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) oleh Balitbang ACTION.
Kompleks makam ini memiliki tipologi nisan khas Aceh Darussalam abad ke-17, yang menunjukkan kuatnya pengaruh peradaban Islam klasik di wilayah ini. Selain itu, ditemukan pula dua makam lain yang berasal dari abad ke-18 dan ke-19, menandakan kesinambungan tradisi pemakaman lintas generasi.
Tim juga menemukan situs lain di kawasan “Batee Meuraksa” dengan karakteristik nisan serupa. Temuan ini tergolong baru di wilayah Nagan Raya dan mengindikasikan bahwa kawasan tersebut telah menjadi pusat permukiman sejak sekitar abad ke-17 atau tahun 1600-an.
Menguatkan Identitas Sejarah Pantai Barat Selatan
Ketua DPP ACTION, Aris Faisal Djamin, menyatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ziarah, tetapi bagian dari upaya ilmiah untuk memperkuat identitas sejarah daerah.
“Jejak Habib Seunagan sebagai ulama tarekat sekaligus figur yang terkait dengan jaringan perjuangan, serta keberadaan makam kuno seperti Cut Wan, menunjukkan bahwa Nagan Raya memiliki akar peradaban yang kuat dan tua. Ini penting untuk memperkuat identitas sejarah daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil penelitian ini akan ditindaklanjuti melalui proses pendataan, kajian arkeologis, serta dorongan untuk penetapan status cagar budaya.
Rangkaian Kegiatan dan Silaturahmi
Setelah menyelesaikan kegiatan penelitian di Puloe Ie, tim melanjutkan perjalanan ke Meulaboh dan disambut oleh Ketua DPW ACTION Aceh Barat, Mukhsin. Kegiatan dilanjutkan dengan silaturahmi bersama anggota SKPP Aceh Barat sebelum rombongan kembali ke Aceh Barat Daya.
Penelitian ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi kajian lanjutan dalam bidang sejarah, arkeologi, dan studi keislaman, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat warisan leluhur.
Dengan temuan ini, Puloe Ie tidak hanya menjadi destinasi ziarah, tetapi juga situs penting dalam membaca kembali narasi besar peradaban dan perjuangan Aceh di masa lalu. (RNa)


