Advertisement
![]() |
| Tim Balitbang Action, Museum Susoh dan Keluarga Besar Teuku Ben Agam |
Blangpidie, Nasional.Top | Museum Susoh bersama Balitbang Action menggelar kegiatan meuseuraya berupa penataan ulang dan pembersihan makam Teuku Ben Agam, tokoh pendiri Kota Blangpidie, di Desa Kuta Bahagia, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, pada Sabtu (15/11).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian sejarah lokal, sekaligus bentuk penghormatan terhadap salah satu tokoh penting dalam perjalanan daerah. Teuku Ben Agam merupakan kakek dari Teuku Ben Mahmud, sosok yang memimpin wilayah Blangpidie pada awal abad ke-19.
Ketua pelaksana kegiatan, Teuku Ilham Apriliansyah, kepada Nasional.Top mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal dalam merawat jejak sejarah para pendiri daerah.
Meuseuraya ini bukan hanya sekadar membersihkan makam, tetapi bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membangun fondasi Blangpidie. Kami berharap kegiatan ini menjadi rutinitas dan menginspirasi masyarakat untuk peduli terhadap sejarah lokal, apalagi makam ini akan menjadi prioritas pemerintah kabupaten Aceh Barat Daya untuk diusulkan menjadi Cagar Budaya pada tahun 2026 nanti. ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan pembersihan area makam, pembacaan tahlil dan doa bersama, hingga penataan ulang struktur makam dengan menambahkan batu putih, memasang kain penutup makam, serta menyusun kembali batu sakrah sebagai penanda nisan tradisional.
Acara turut dihadiri oleh keturunan Teuku Ben Mahmud. Salah satunya adalah Teuku Syahrol, yang mengapresiasi langkah Museum Susoh dan Balitbang Action.
Kami dari pihak keluarga sangat berterima kasih atas inisiatif ini. Banyak situs sejarah keluarga yang luput dari perhatian. Kegiatan seperti ini sangat penting agar generasi muda tidak kehilangan jejak sejarahnya,” ungkapnya.
Sejumlah relawan dan peneliti budaya ikut terlibat dalam kegiatan tersebut, di antaranya Aris Faisal Djamin, Sayed Habiburrahman, Assauti Wahid, Amalul Ahli, Muhammad Zulyan Mahdi, dan Hatfan Aufari.
Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan. Museum Susoh berharap kegiatan pelestarian makam tokoh sejarah dapat dilakukan secara berkala dan menjadi bagian dari gerakan menjaga memori kolektif masyarakat Aceh Barat Daya. (AFD)

