Advertisement
Bukittinggi, Nasional.Top — Dua ulama besar Sumatera, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi dan Abuya Dr. H. Arrazy Hasyim, Lc, S.Fil.I, MA.Hum, dijadwalkan hadir bersama dalam Majelis Pengkajian Tauhid dan Tasawuf Indonesia (MPTT-I) Sumatera Barat di Surau Suluk Tangah Sawah, Bukittinggi, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Majelis tersebut mengangkat tema “Bangun untuk Allah” dan dirangkai dengan kegiatan Dzikir dan Rateb Seribee. Selain Abuya Amran Waly dan Abuya Arrazy Hasyim, kegiatan juga menghadirkan Buya Drs. Azwar Angku Bagindo, Mursyid Suluk Surau Tarbiyah Bukittinggi Agam, serta Buya Mashuri, M.Ag, Wali Nanggroe MPTT-I Sumbar.
Kehadiran Abuya Amran Waly dan Abuya Arrazy Hasyim dalam satu majelis menjadi menarik karena keduanya memiliki keterhubungan dengan tradisi keilmuan dan kesufian ala Tarbiyah Islamiyah yang berkembang di Sumatera Barat dan Aceh.
Abuya Amran Waly Al-Khalidi merupakan putra ulama besar Aceh, Abuya Syekh H. Muhammad Waly Al-Khalidi atau Abuya Muda Waly, pendiri Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Dalam profil resmi MPTT-I disebutkan bahwa Abuya Amran sejak kecil belajar kepada ayahnya dan kemudian memperdalam berbagai disiplin ilmu kepada sejumlah murid Abuya Muda Waly, antara lain Syekh Zakaria Labai Sati, Abu Daud Zamzami dan Abuya Imam Syamsuddin Sangkalan.
Dalam bidang tasawuf dan tarekat, Abuya Amran Waly diangkat sebagai mursyid tarekat Naqsyabandiyyah Khalidiyyah oleh Abuya Aidarus Ghani bin Syaikh Abdul Ghani al-Kamfari. Adapun Abuya Aidarus mendapatkan ijazah mursyid dari Abuya Muda Waly al-Khalidy. Abuya Muda Waly sendiri diberikan ijazah mursyid oleh Syaikh Abdul Ghani al-Kamfari.
Abuya Amran Waly mempelajari fikih, tasawuf, tauhid-kalam serta berbagai ilmu alat, termasuk nahwu, sharaf, mantiq, ma'ani, bayan, usul fikih, tafsir dan hadis dari guru-gurunya. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh yang mengembangkan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) dan menggagas dzikir Rateb Seribee.
MPTT-I sendiri menyebut pengkajian tauhid tasawuf mulai dikembangkan dari Pondok Pesantren Darul Ihsan, Pawoh, Labuhan Haji, Aceh Selatan, pada 1998, kemudian berkembang ke berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara. MPTT-I menempatkan kajian tauhid dan tasawuf sebagai upaya memperkuat akidah, memperbaiki amal dan akhlak serta mendidik manusia agar semakin dekat kepada Allah.
Sementara itu, Abuya Dr. H. Arrazy Hasyim merupakan ulama kelahiran Koto Tangah, Payakumbuh, Sumatera Barat, pada 1986. Ia menempuh pendidikan dasar hingga MTsN di Payakumbuh dan melanjutkan pendidikan di MAN/MAKN 2 Bukittinggi sebelum melanjutkan studi ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dalam perjalanan akademik dan keagamaannya, Abuya Arrazy tercatat mempelajari hadis, akidah, fikih, nahwu, ilmu hadis, tasawuf dan berbagai disiplin keislaman dari sejumlah ulama, baik di Indonesia maupun Timur Tengah. Profil resmi Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah juga mencatat sejumlah ijazah hadis dan ijazah dalam ilmu zikir serta tasawuf yang diterimanya.
Khusus dalam bidang zikir dan tasawuf, Abuya Arrazy Hasyim berguru kepada Abuya Hasan Basri Dt. Sati Piladang, Syaikh Muhammad Nuruddin, Syaikh Kasril al-Khalidi Koto Nan Ampek, Syaikh Dr. Muhammad Abdurrabb al-Nazhari al-Syadzili dan Syaikh Darlis bin Hasan Basri al-Naqsyabandi al-Sammani, Buya Nu'man Basyir Koto Nan Gadang, dan beberapa guru lainnya.
Dalam sebuah ceramah disampaikan Abuya Arrazy ketika berkunjung dan mengisi kajian di Ma'had Fahmussalam Al-Aziziyah, Medan, Abuya Arrazy Hasyim menjelaskan hubungan sanad keilmuan yang menghubungkan dirinya dengan Abuya Syekh Muhammad Waly Al-Khalidi atau Abuya Muda Waly.
Dalam penjelasan tersebut, Abuya Arrazy menyebut gurunya, Syekh Hasan Basri dan Syekh Ali Syarbaini al-Kampari, adalah murid Syekh Zakaria Labai Sati. Adapun, Syekh Zakaria Labai Sati merupakan murid Abuya Muda Waly.
Syekh Zakaria Labai Sati sendiri berasal dari Malalo, Sumatera Barat dan merupakan ulama penting dalam jaringan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). Ia merupakan pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Malalo.
Menurut penjelasan Abuya Arrazy, ilmu mantiq menjadi salah satu bidang yang membuat kapasitas keilmuan Syekh Zakaria Labai Sati sangat dihormati. Hubungannya dengan Abuya Muda Waly memiliki karakter yang menarik.
Dalam penjelasan Abuya Arrazy, Syekh Zakaria Labai Sati lebih tua daripada Abuya Muda Waly. Akan tetapi, karena kedalaman keilmuan Abuya Muda Waly, Syekh Zakaria menempatkan beliau sebagai guru.
Di sisi lain, Abuya Muda Waly memandang Syekh Zakaria Labai Sati sebagai seorang ulama besar, sahabat sekaligus teman berdiskusi. Bahkan, Nama “Zakaria al-Anshari” diberikan oleh Syekh Muda Waly sebagai bentuk tafa'ul dengan nama Syekh Zakaria al-Anshari asy-Syafi'i.
Karena itu, pertemuan di Bukittinggi pada 8 Agustus 2026 dapat dibaca bukan hanya sebagai agenda pengajian, tetapi juga sebagai perjumpaan dua tradisi keilmuan yang memiliki titik-titik hubungan historis dan sanad.
Kehadiran Abuya Arrazy Hasyim di Bukittinggi merupakan bagian dari rangkaian rihlah dakwah di Sumatera Barat.
Agenda yang diinformasikan Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah meliputi:
- Selasa, 4 Agustus 2026 — Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Khazinatul Asrar Agam, pukul 20.00 WIB.
- Rabu, 5 Agustus 2026 — Surau Nur Mutmainnah Koto Tangah Payakumbuh, pukul 19.00 WIB.
- Kamis, 6 Agustus 2026 — Surau Tuo Taram Payakumbuh, pukul 20.00 WIB.
- Jumat, 7 Agustus 2026 — Masjid Al-Amanah, Kelurahan Kubu Gadang, Payakumbuh, pukul 20.00 WIB.
- Sabtu, 8 Agustus 2026 — Surau Suluk Tangah Sawah, Bukittinggi, mulai pukul 11.00 WIB.

