Nasional.Top

lisensi

Advertisement

Advertisement
Redaksi
Senin, 09 Maret 2026, 18:32 WIB
Last Updated 2026-03-09T11:35:47Z
NewsOpini

Mengenal Sosok Prof. Al-Attas, Ilmuwan Besar Islam dan Hubungannya dengan Aceh Darussalam

Advertisement


Oleh: Tgk. Muhammad Andri Fikri, M.Pd.I


Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin Al-Attas merupakan seorang ilmuwan terkenal di dunia Islam, khususnya di Alam Melayu–Indonesia. Beliau merupakan cucu dari Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas (Habib Keramat Empang Bogor), seorang ulama besar Indonesia. Sedangkan dari jalur ibunya, beliau masih memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan Johor, Malaysia.


Beliau lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 5 September 1931. Beliau sempat menjalani pendidikan dasar beberapa tahun di Bogor dan Sukabumi. Pada usia lima tahun, Syed Naquib Al-Attas dikirim keluarganya ke Johor untuk masuk sekolah dasar Ngee Heng Primary School sampai usia 10 tahun (1936–1941). Namun, melihat perkembangan dan keadaan yang kurang menguntungkan, beliau dan keluarganya kembali lagi ke Indonesia karena Malaysia sudah dikuasai oleh Jepang.


Di Indonesia, beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi, Jawa Barat, selama lima tahun (1941–1946). Di tempat ini Syed Naquib Al-Attas mulai mendalami dan mendapatkan pemahaman tradisi Islam yang kuat, terutama tarekat, sebab saat itu di Sukabumi telah berkembang perkumpulan Tarekat Naqsyabandiyah.


Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud meneliti bahwa Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas merupakan keturunan ke-37 dari silsilah keturunan Rasulullah SAW, melalui garis Husain bin Ali bin Abi Thalib RA. Kakek dari Syed Naquib Al-Attas, yakni Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas, lahir di Desa Al-Kasri, Hadramaut, pada 20 Jumadil Awwal 1265 H (1849 M).


Jalur nasab Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah: Syed Muhammad Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Muhsin bin Husein bin Umar bin Abdurrahman Al-Attas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghayur bin Muhammad Al-Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhiy bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain dari Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, sampai kepada Rasulullah SAW.


Sedangkan silsilah dari jalur ibunya yang masih keluarga kerajaan Johor, Malaysia, bernama Sharifah Raquan binti Syed Muhammad Alaydrus. Kakeknya seorang sufi dan guru serta mursyid dari kalangan ulama Hadramaut bernama Syekh Abu Hafs Basyaiban, yang berjasa dalam membawa Syekh Nuruddin Ar-Raniry ke Aceh dan dunia Melayu.


Ketika beliau tinggal bersama pamannya, Ungku Abdul Aziz bin Ungku Abdul Majid (Menteri Besar Johor ke-6), tepatnya pada tahun 1946, Syed Naquib Al-Attas melanjutkan pendidikannya di Bukit Zahrah School, kemudian di English College Johor Bahru (1946–1951). Saat itu beliau sudah akrab dengan manuskrip Arab dan Melayu sehingga inilah yang menjadi cikal bakal yang mengasah kepakarannya dalam bidang keilmuan Islam.


Syed Naquib Al-Attas juga sempat mengenyam pendidikan militer selama tiga tahun di Royal Military Academy Sandhurst, England (1952–1955). Karena beliau tidak condong terhadap dunia militer, akhirnya karier militernya berhenti dan beliau lebih tertarik melanjutkan studinya ke Universiti Malaya di Singapura (1957–1959).


Dalam menyelesaikan kuliah tingkat strata satu di Fakultas Kajian Ilmu Sosial (Social Sciences Studies), Syed Muhammad Naquib Al-Attas sudah menghasilkan dua karya penting, yaitu Rangkaian Ruba’iyat yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (1959), dan Some Aspects of Sufism as Understood and Practised Among the Malays, yang kemudian diterbitkan oleh The Malaysian Sociological Research Institute (1963). Karena begitu berharganya karya beliau ini, pemerintah Kanada memberikan apresiasi yang tinggi dengan memberi Syed Naquib Al-Attas beasiswa di McGill University, Montreal, Kanada.


Pada tahun 1962, Syed Muhammad Naquib Al-Attas meraih gelar strata dua M.A. (Master of Arts) dalam bidang Islamic Studies di McGill University, dengan mengangkat tesis tentang Aceh. Beliau fokus meneliti ajaran mistisisme (tasawuf) yang berkembang di Aceh pada abad ke-17, khususnya mengenai pemahaman ajaran Wujudiyah dan konflik intelektual antara Nuruddin Ar-Raniry dengan pengikut Hamzah Fansuri. Tesis tersebut berjudul “Raniry and the Wujudiyyah of 17th Century Aceh” (Ar-Raniry dan Wujudiyah abad ke-17 di Aceh Darussalam).


Pada tahun 1965, Syed Muhammad Naquib Al-Attas menyelesaikan S3 (Ph.D.) di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, dengan disertasi tentang pemikiran tasawuf seorang tokoh dan ulama besar Aceh abad ke-16, yaitu Syekh Hamzah bin Ismail Al-Fansuri. Disertasi beliau terdiri dari dua jilid yang berjudul “The Mysticism of Hamzah Fansuri”.


Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas memiliki hubungan intelektual yang sangat dekat dengan Aceh, terutama melalui kajian sejarah, sastra Melayu Islam, dan pemikiran keislaman. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dikenal dengan gagasan keislaman Melayu, sehingga beliau menjadikan Aceh sebagai salah satu pusat peradaban untuk memulai kajian tersebut.


Ada beberapa poin hubungan kedekatan beliau dengan Aceh.


Pertama, dalam kajian keislaman. Para sejarawan sepakat bahwa Aceh merupakan salah satu negeri pertama yang memeluk agama Islam di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Syed Muhammad Naquib Al-Attas memberikan kontribusi besar dalam meneliti dan menonjolkan peran tokoh-tokoh sufi besar dari Aceh dalam sejarah intelektual, khususnya Syekh Hamzah bin Ismail Al-Fansuri dan Syekh Syamsuddin As-Sumatrani.


Sebelumnya hubungan Kerajaan Melaka dan Aceh Darussalam sudah terjalin selama beberapa abad. Sehingga pusara ulama besar Aceh, Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, berada di Negeri Melaka, Malaysia. Karya-karya beliau juga mudah ditemukan di Malaysia, seperti Jauhar al-Haqaiq dan lainnya.


Selanjutnya, Syed Muhammad Naquib Al-Attas menekankan bahwa Aceh (bersama dengan Fansur/Barus) merupakan pusat penting dalam penyebaran Islam dan perkembangan intelektualisme di Alam Melayu. Karyanya menegaskan bahwa bahasa Melayu berkembang pesat menjadi bahasa ilmu karena pengaruh tradisi keilmuan Islam yang kuat.


Para ulama Aceh seperti Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, Syekh Abdurrauf As-Singkili, dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry menjadi promotor berkembangnya tamaddun Melayu yang berpusat dari Aceh.


Selanjutnya, hubungan ilmiah beliau dengan Aceh juga terlihat dalam bidang pemikiran dan cara pandang hidup masyarakat. Pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas tentang Islamisasi ilmu dan pandangan hidup Islam (Islamic worldview) sangat berpengaruh dalam dunia akademik dan tatanan kehidupan masyarakat Aceh.


Pemikiran beliau banyak dipelajari, dikaji, dan diaktualisasikan dalam kurikulum pendidikan Islam di berbagai lembaga pendidikan di Aceh. Hubungan ini menjadi langkah awal agar Aceh mampu mengembalikan peradaban Islam yang menjadi kekuatan bagi masyarakatnya.


Beliau juga menulis karya ilmiah berupa tesis dan disertasi tentang tokoh Aceh serta perkembangan tasawuf di Aceh. Dua karya agung tersebut membuktikan kuatnya hubungan intelektual dan keilmuan beliau dengan Aceh.