Nasional.Top

lisensi

Advertisement

Advertisement
Redaksi
Rabu, 31 Desember 2025, 20:23 WIB
Last Updated 2026-01-04T10:33:43Z
ActivismCultureNews

Gelar Meuseuraya, Action dan Museum Susoh Bersihkan Enam Situs Cagar Budaya Abdya

Advertisement



Nasional.Top | Aceh Barat Daya — Sebanyak enam situs cagar budaya dan objek diduga cagar budaya di Aceh Barat Daya (Abdya) dibersihkan secara serentak melalui kegiatan Meuseuraya (gotong royong) yang dilakukan Aceh Culture and Education (Action) bersama Museum Susoh. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dengan fokus pada pembersihan situs bersejarah di wilayah Abdya.


Pelaksanaan Meuseuraya melibatkan Tim Action dan Museum Susoh, dengan dukungan berbagai unsur, di antaranya Agam Inong Aceh Barat Daya, Wareh Raja Kuala Batu dan Negeri Nata, Badan Kemakmuran Masjid (BKM) dua masjid tua, ahli waris Teuku Ben Agam dan Abu Syekh Mud, serta pemerintah dan pemuda Gampong Lama Tuha, Kecamatan Kuala Batee, khusus di kawasan Cagar Budaya Kerajaan Kuala Batu, di mana Tim Action membersihkan enam madat.


Untuk efektivitas pelaksanaan, peserta pada 30–31 Desember 2025 dibagi ke dalam enam tim kerja yang bertugas di masing-masing situs, yakni di empat cagar budaya (CB) yaitu Makam Syekh Mahmud Blangpidie, Masjid Tua Ayah Gadeng Manggeng, , Masjid Tua Pusaka Susoh, dan Kawasan Cagar Budaya Kerajaan Kuala Batu, serta dua objek diduga cagar budaya (ODCB) yaitu Makam Teuku Ben Agam Blangpidie dan Makam Datuk Bagindo Susoh.


Koordinator Lapangan kegiatan, Khazinatul Asrar, S.STP, menyebutkan bahwa kegiatan Meuseuraya ini difokuskan pada pembersihan dan penataan kawasan cagar budaya.


“Walaupun Aceh Barat Daya tergolong wilayah terdampak ringan dan tidak ada bekas banjir di lokasi situs, pembersihan berkala tetap penting agar situs-situs bersejarah ini terjaga kebersihan, kelestarian, dan nilai historisnya,” ujar pria yang akrab disapa Rio.


Sementara itu, Ketua DPP Aceh Culture and Education (Action) sekaligus Kurator Museum Susoh, Aris Faisal Djamin, SH, menegaskan bahwa kegiatan Meuseuraya tidak hanya berorientasi pada pembersihan fisik semata.


“Kegiatan ini juga bagian dari proses pemetaan kondisi cagar budaya di Aceh Barat Daya. Data lapangan yang kami himpun akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi pelestarian dan pengelolaan cagar budaya secara lebih terarah, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ujar Aris.


Meski Aceh Barat Daya tergolong wilayah terdampak ringan, Meuseuraya tetap dipandang penting dan strategis sebagai upaya menjaga keberlanjutan situs cagar budaya serta memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap nilai sejarah dan kebudayaan daerah.


Action dan Museum Susoh menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan kesadaran kolektif terhadap nilai sejarah dan budaya daerah serta mengawal pelestarian cagar budaya di wilayah barat selatan Aceh khususnya di Aceh Barat Daya melalui pendekatan kolaboratif, partisipatif, dan berbasis data, agar warisan sejarah Aceh tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.