Nasional.Top

lisensi

Advertisement

Advertisement
Redaksi
Jumat, 26 Juni 2026, 11:53 WIB
Last Updated 2026-06-26T05:19:25Z
Nasional.TopOpini

10 Muharram 656 H (Asyura), Langkah Awal Kehancuran Kota Baghdad

Advertisement


Di dalam Islam banyak bulan yang dimuliakan oleh Allah Azza wa Jalla. Salah satunya adalah bulan Muharram. Begitu pula dalam satu tahun terdapat 12 bulan, sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 36:


اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا 

"Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan."


Di antara dua belas bulan tersebut, ada empat bulan yang istimewa atau disebut bulan haram (bulan yang dimuliakan), yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah. Mestinya, jika bulan ini sudah diistimewakan, pasti banyak peristiwa yang terjadi pada bulan haram. Salah satunya adalah peristiwa 10 Muharram atau yang lebih dikenal sebagai Hari Asyura.


Jika kita melihat dari sudut pandang asbab berbagai peristiwa yang terjadi pada 10 Muharram, maka kita tak bisa terlepas dari kisah para nabi dan rasul yang Allah muliakan dengan memberi keistimewaan kepada mereka. Pada hari itu, tepatnya 10 Muharram, yang dalam bahasa Arab disebut Asyura.


Salah satu peristiwa yang terjadi pada 10 Muharram adalah Allah menyelamatkan bahtera Nabi Nuh ke Bukit Al-Judi dari banjir besar. Ada juga Allah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan, serta Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran prajurit Firaun dan menenggelamkannya di Laut Merah. Masih banyak peristiwa lainnya.


Setelah kita mengetahui bahwa 10 Muharram merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada kaum muslimin, ada pula peristiwa besar yang menyayat hati, meneteskan air mata, dan membawa duka lara yang terjadi pada 10 Muharram tersebut.


Yakni jatuhnya Kekhalifahan Abbasiyah yang beribu kota di Baghdad, yang dimulai pada hari Senin, 10 Muharram 656 H, bertepatan dengan 17 Januari 1258 M.


Sejarah pilu umat Islam itu tercatat dalam kitab Tarikh al-Khulafa' karya Imam Abdurrahman Jalaluddin As-Suyuthi (w. 911 H).


Di akhir Kekhalifahan Abbasiyah, ulama sudah tidak bersatu, keilmuan mulai redup, masjid dan madrasah mulai ditinggalkan. Majelis ilmu tidak lagi diminati. Peradaban Islam mulai sirna. Mereka lebih memilih mencintai dunia daripada akhirat.


Bahkan khalifah terakhir, Al-Mushta'sim namanya. Ia gemar hiburan, asyik menari bersama para selirnya, dan mengumpulkan harta dunia. Bahkan Ibnu Ath-Thuqtuqa menggambarkan sifatnya:


"Ia mendengarkan musik dan nyanyian hingga larut pagi. Hampir tidak ada waktu kecuali di dalamnya terdapat sajian hiburan dan kefasikan."


Saking asyiknya dengan urusan dunia, ia lupa bahwa Hulagu Khan, sang jenderal Mongol, sudah berada di gerbang wilayah Abbasiyah dengan membawa pasukan perang yang siap melumatkan seluruh Baghdad.


Baghdad, ibu kota Abbasiyah yang kini menjadi ibu kota negara Irak, menyimpan begitu banyak kekayaan dan ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi pusat peradaban Islam yang gemilang. Kota itu dihancurkan dalam waktu singkat oleh pasukan Mongol yang tangannya ringan membantai. Kuda-kuda berderap melengkapi suasana tragis. Bercak darah tampak di dinding rumah, madrasah, ruas jalan, hingga taman kota.


Pasukan Mongol sangat kejam. Mereka meneror dan membantai kaum muslimin di kota-kota. Ketika Hulagu Khan memerintahkan menghitung jumlah korban yang tewas, kaum muslimin yang dibantai disebut mencapai 1,8 juta jiwa. Na'udzubillah. Pembantaian berlangsung selama 30 hari.


Tak hanya itu, mereka membakar Darul Hikmah, perpustakaan terbesar umat Islam saat itu, lalu membuang buku-buku dan kitab-kitab ke Sungai Eufrat hingga airnya menghitam karena tinta.


Selesai dengan pembantaiannya, Hulagu Khan, sang pemimpin Mongol, mendatangi Khalifah Al-Mustha'sim yang sedang ketakutan dan menggigil ngeri. Hulagu Khan meminta seluruh harta kekayaan Al-Mustha'sim diserahkan kepadanya tanpa tawar-menawar.


Sang khalifah kemudian membawa Hulagu Khan ke dalam ruangan istana yang berisi emas dan perak dalam jumlah yang sangat besar. Kilaunya membuat siapa pun akan bergetar karena begitu banyaknya. Namun, siapa sangka, dalam waktu sekejap kegemilangan harta itulah yang membuat Abbasiyah luluh lantak dan binasa.


Kita jadi teringat dengan hadis Nabi:


فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ، كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ 

"Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." (HR. Bukhari dan Muslim).


Nabi sudah memberikan isyarat melalui hadis ini, bahwa jika umatnya lebih memilih dunia, maka kehancuran akan menimpa mereka.


Apa hikmah sejarah yang bisa kita kutip?


Masa kejayaan (prime) dan kehancuran itu digilirkan oleh Allah.


"Masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran, dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman yang sejati dengan orang-orang kafir, serta agar sebagian kamu dijadikan-Nya sebagai syuhada." (QS. Ali 'Imran: 140).


Kemudian kita dapat mengambil pelajaran dengan membaca sejarah dan peristiwa yang telah lalu, karena pentingnya sejarah agar kita tidak salah melangkah.


"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS. Yusuf: 111).


Jangan sampai lalai dan jauh dari Allah, karena sesungguhnya para pemenang adalah mereka yang taat kepada Tuhannya.


"Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS. An-Nur: 52).


Semoga dengan momentum Asyura 10 Muharram ini kita menjadi pribadi yang lebih taat dan lebih baik dengan mengikuti Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.


Wallahu a'lam bishawab.


Penulis: Tgk. Muhammad Andri Fikri, M.Pd.
(Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Internasional Dalwa, Ketua DPW Aceh Culture and Education Kabupaten Aceh Selatan)

Tapaktuan, Aceh Selatan
10 Muharram 1448 H
25 Juni 2026 M