Nasional.Top

lisensi

Advertisement

Advertisement
Aris Faisal Djamin S.H
Rabu, 06 September 2023, 10:46 WIB
Last Updated 2023-09-22T07:40:38Z
NewsOpini

Obsesi Tinggi Menjadi Tuhan

Advertisement
Muhammad Fadhillah Lc., M.Us

قَالُوا۟ لَن نُّؤۡثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاۤءَنَا مِنَ ٱلۡبَیِّنَـٰتِ وَٱلَّذِی فَطَرَنَاۖ فَٱقۡضِ مَاۤ أَنتَ قَاضٍۖ إِنَّمَا تَقۡضِی هَـٰذِهِ ٱلۡحَیَوٰةَ ٱلدُّنۡیَاۤ. إِنَّاۤ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِیَغۡفِرَ لَنَا خَطَـٰیَـٰنَا وَمَاۤ أَكۡرَهۡتَنَا عَلَیۡهِ مِنَ ٱلسِّحۡرِۗ وَٱللَّهُ خَیۡرࣱ وَأَبۡقَىٰۤ

Mereka (para penyihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” [QS. Thaha 72-73].

Itulah dia ayat dari surat Thaha yang membuat istana Fir'aun terguncang hebat. Sang raja dikalahkan begitu saja oleh pemuda belia bernama Musa. Tipu dayanya memanggil para ahli sihir dari penjuru negeri Mesir berakhir kekalahan. Alih-alih mengalahkan Musa, para penyihir pemuja Fir'aun malah tertunduk sujud menyembah Tuhan Musa dan enggan lagi menuhankan Fir'aun.

Fir'aun geram bukan kepalang. Ia mengamuk di atas singgasananya. Para menteri dan orang-orang di sampingnya menjadi luapan kemarahannya. Semuanya dicaci, kemudian diusir dari istananya. Fir'aun menyendiri sembari menenggak anggur. Namun,  kemarahannya tak kunjung reda. Ia pun memanggil kembali semua menteri dan pejabat kerajaan untuk menghadapnya segera.

Dengan rasa takut, para pejabat memasuki istana. Melihat rajanya yang masih emosional, makin takut hati mereka. Sebentar lagi, raja negeri Mesir ini pasti meledak. Wajah sang raja tertekuk geram. Ia seakan baru saja ditampar keras oleh Musa. Sang Nabiyullah membuktikan ketuhanan Fir'aun palsu belaka. Ia hanya manusia lemah yang berdusta mengaku Tuhan.

Ketika semua pembesar telah berkumpul, Fir'aun tiba-tiba bertanya kepada perdana menterinya, "Hai Hamman, Apakah aku ini seorang pendusta?" teriak Fir'aun.

Hamman, pengikut setia Fir'aun, pun langsung bertekuk lutut, kemudian menyahut, "Siapa yang berani menuduh baginda Fir'aun sebagai pembohong?!" ujarnya membela.

Fir'aun pun berkata, "Bukankah Musa mengatakan bahwa ada Tuhan di surga?" ujar penguasa Negeri Piramida, geram.

"Musa telah berdusta!" ujar Hamman segera tanpa menunggu lama. Sebab ia tak ingn tuannya marah.

Namun, Fir'aun tak puas dengan jawaban Hamman. Ia pun memalingkan wajahnya dengan wajah masih merah padam. "Saya tahu, Musa itu hanyalah tukang sihir yang berdusta," ujar Fir'aun.

Fir'aun kembali memandang Hamman dengan ide tipu daya yang lain, "Wahai pembesarku, akulah Tuhan kalian. Bersama Hamman, bangunlah untukku sebuah menara yang menjulang tinggi supaya aku sampai hingga pintu-pintu langit. Aku ingin melihat Tuhan Musa, dan aku tahu bahwa Musa itu hanyalah seorang pendusta," kata Fir'aun.

Hati Fir'aun benar-benar tertutup. Ia terhalang menuju jalan yang lurus. Pun, para pembesarnya tak dapat menolak perintah sang raja. Hamman pun segera memerintahkan para pembesar lain untuk memenuhi keinginan Fir'aun. 

Namun, itu hanyalah sifat munafik Hamman. Ia sebenarnya tahu betul bahwa mustahil membangun menara seperti yang diinginkan Fir'aun. Bahkan, meski peradaban Mesir kala itu dipandang maju, membangun menara hingga pintu langit merupakan perkara ajaib yang tak mampu dilakukan. Kendati demikian, ia mengiyakan perintah Fir'aun agar sang raja tak murka padanya.

Hingga kemudian, Haman dengan kedudukannya memberikan pengaruh bagi keputusan raja. Ia dengan mulut manisnya berusaha memuja Fir'aun. "Namun, paduka, untuk pertama kalinya saya merasa keberatan. Kendati Anda telah membangun menara menjulang, Anda tak akan pernah menemukan siapa pun di langit. Karena, memang tidak ada Tuhan selain Anda," ujar Haman.

Mendengarnya, Fir'aun langsung berbangga diri dan memuja diri sendiri dengan ucapan Haman. Fir'aun pun kemudian mendeklarasikan diri kembali sebagai Tuhan. "Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku," ujar Fir'aun.

Fir'aun pun kemudian menyebarkan rumor di tengah masyarakat. Setiap orang yang berani melawannya dan menyembah selainnya akan mendapat hukuman mati. Fir'aun memperketat militernya. Ia menyebar semua aparat untuk menjaga eksistensinya sebagai Tuhan. Bani Israil pun dirundung teror Fir'aun tersebut. Apalagi, Haman mengusulkan agar Fir'aun membunuh setiap pria dan menodai setiap wanita di antara para pengikut Musa.

Kebebasan beragama selalu dijaga oleh agama apapun, karena itu adalah hak setiap individu dalam kehidupannya. Namun, yang terjadi di Mesir pada waktu itu sungguh berbeda. Ada seorang manusia yang terobsesi ingin menjadi Tuhan. Tentu obsesi ingin menjadi Tuhan, lebih berbahaya ketimbang tidak mengakui adanya Tuhan, atau atheis. Orang yang tidak percaya Tuhan, akan membangun narasi kehidupan dengan norma dan nilai yang dia pikirkan. Hasilnya adalah filsafat nilai atau etika. Di Barat nilai dan norma tersebut teraktualisasi dalam humanisme. Untuk membangun negara mereka menggunakan empirisme dan rasionalisme. Hasilnya adalah ilmu pengetahuan seperti dapat dilihat saat ini.

Ketika ada manusia yang ingin menjadi Tuhan, ternyata dampaknya sangat buruk bagi manusia lain. Sebabnya apa? Karena keyakinan tersebut tidak dapat hidup berdampingan dengan manusia lainnya, baik yang beragama maupun tidak beragama, baik yang beriman (monoteis) ataupun yang musyrik (politeis). Logikanya seperti ini. Orang ateis tidak percaya Tuhan, sementara Fir’aun mengaku sebagai tuhan. Berarti sama saja, orang ateis tersebut tidak mengakui Fir’aun. Begitu juga dengan orang yang beragama. Dia mengakui ada Tuhan, meskipun bukan Fir’aun. Sementara Fir’aun mengaku dirinya Tuhan, berarti orang beragama tadi membangkan terhadap ketuhanan Fir’aun.

Itulah sebabnya obsesi Fir’aun ini sangat berbahaya. Membahayakan semua manusia yang berada di sekitarnya, baik yang atheis ataupun yang beragama, bahkan yang musyrik sekaligus. Adanya Tuhan menuntut ketiadaan Tuhan selainnya. Selain Tuhan adalah hamba siapapun dia tak terkecuali Fir'aun. Seorang hamba, harus taat dan patuh kepada Tuhan. Itulah sebabnya perbudakan merajalela di zaman Fir’aun. Karena semua penduduk dianggap hamba, yang tidak lain adalah budak.

Di sinilah pangkal kerusakan rezim Fir’aun. Mungkin inilah yang menyebabkan namanya tercatat dalam sejarah dan kitab suci. Bahkan, pangkal rusaknya sistem perekonomian di Mesir adalah dari obsesi tersebut. Implikasi dari obsesi menjadi Tuhan ini sebenarnya mengarahkan pada isolasi ekonomi Mesir sendiri. Fir’aun akhirnya mengembargo dirinya sendiri. Apakah ada negara dapat hidup sendiri? 

Temuan-temuan dari para arkeolog modern mengkonfirmasi tentang adanya kisah Fir’aun yang diceritakan oleh Al-Qur’an. Maurice Bucaille seorang egyptologis mempublikasikan bukunya yang berjudul “The Bible, The Qur’an and Science”. Dalam bukunya itu ia mengatakan bahwa tidak ada pernyataan dalam al-Qur’an yang bertentangan dengan fakta ilmiah. Kesimpulan Maurice Bucaille tersebut ia buat setelah ia melakukan kajian terhadap mummy Ramesses II yang diperkirakan hidup pada zaman Nabi Musa. Ia menemukan ada sisa garam pada mummy tersebut. Mummy yang ada di Mesir baru ditemukan sekitar tahun 1898 M. Sementara cerita tentang Fir’aun telah diketahui oleh muslim sebagaimana diinformasikan al-Qur’an jauh sebelum itu. Hal inilah yang membuat Maurice Bucaille terheran-heran.

Hasil temuan arkeologi tentang peradaban Mesir kuno termasuk Pharaoh memang sangat menarik. Telah banyak publikasi ilmiah dan film fiksi tentang hal itu. Selaku orang yang beriman, kita patut mengambil pelajaran berharga dari kisah Fir’aun ini. Penggambaran al-Qur’an terhadap Fir’aun ini adalah “manusia yang paling sombong”. Kesombongan terbesar Fir’aun adalah ia mengaku dirinya sebagai tuhan.  Lalu akibat kesombongannya tersebut, Allah menghukum Fir’aun bersama bala tentaranya. Mereka ditenggelamkan di laut. Sebagaimana Allah tampakkan dalam firman-Nya, 

وَٱسۡتَكۡبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُۥ فِی ٱلۡأَرۡضِ بِغَیۡرِ ٱلۡحَقِّ وَظَنُّوۤا۟ أَنَّهُمۡ إِلَیۡنَا لَا یُرۡجَعُونَ. فَأَخَذۡنَـٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذۡنَـٰهُمۡ فِی ٱلۡیَمِّۖ فَٱنظُرۡ كَیۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلظَّـٰلِمِینَ 

Dan dia (Fir'aun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. Maka Kami siksa dia (Fir'aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim. [QS. Al-Qashash : 40]

Fir’aun menjadi simbol kezaliman sepanjang masa. Di dalam dirinya terkumpul kesesatan dalam akidah, kezaliman yang paling tinggi, kesombongan yang paling puncak dan keengganan menerima kebenaran. Al Qur’an menjadikan akhir kehidupan buruk orang-orang semacam ini agar umat manusia khususnya para penguasa mengambil pelajaran dan berfikir. Obsesi ingin menjadi Tuhan, adalah kebijakan soliter, yang tidak tepat untuk planet bumi. Di era globalisasi seperti sekarang, yang tepat adalah belajar penduduk bumi yang baik.

Ditulis oleh:
Muhammad Fadhillah Lc., M.Us
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Aceh
Da’I Perkotaan Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh
Mantan Ketua IKAT Aceh