Nasional.Top

lisensi

Advertisement

Advertisement
Redaksi
Rabu, 20 Mei 2026, 19:51 WIB
Last Updated 2026-05-20T15:20:15Z
ActivismCultureNews

Sarasehan 9th ACTION, Dorong Generasi Muda Jaga Budaya Abdya

Advertisement

Blangpidie, Nasional.Top — LSM Aceh Culture and Education (ACTION) menggelar kegiatan “Sarasehan 9th Aceh Culture and Education” di Aula Green Ariesta Hotel Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, Rabu (20/5/2026).


Kegiatan yang mengangkat tema “Menjaga dan Merawat Budaya di Aceh Barat Daya” itu menjadi ruang diskusi lintas generasi untuk membahas tantangan pelestarian sejarah, bahasa, dan budaya lokal di tengah arus modernisasi serta perkembangan teknologi yang terus memengaruhi kehidupan masyarakat.


Sarasehan budaya tersebut dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pegiat budaya, akademisi, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, hingga tokoh masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Aceh, khususnya wilayah pantai barat selatan.


Ketua panitia, Hasanul Amri, mengatakan kepedulian terhadap budaya tidak harus menunggu usia tua. Menurutnya, generasi muda justru memiliki peran paling penting dalam menjaga identitas daerah agar tidak hilang perlahan di tengah perubahan zaman.


“Untuk peduli budaya tidak mesti menunggu usia kita tua,” kata Hasanul Amri dalam sambutannya.


Ia menilai budaya merupakan identitas utama yang dimiliki masyarakat Aceh dan menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan kepada masyarakat luar. Karena itu, ACTION sengaja melibatkan anak-anak muda sebagai penggerak utama organisasi agar upaya pelestarian budaya terus berlanjut di masa depan.


“Sekarang sangat langka orang-orang yang peduli terhadap kebudayaan, terutama kalangan muda. Padahal tidak ada yang bisa kita banggakan kepada orang luar selain budaya kita sendiri,” ujarnya.


Ketua DPP ACTION, Aris Faisal Djamin, menjelaskan organisasi Aceh Culture and Education lahir pada 2 Mei 2017 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Sejak berdiri, ACTION aktif melaksanakan berbagai kegiatan edukasi, diskusi sejarah, penelitian budaya, hingga pelestarian warisan lokal di Aceh Barat Daya dan wilayah pantai barat selatan Aceh.


Menurut Aris, ACTION selama ini terus berupaya menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali sejarah dan identitas daerahnya sendiri. Salah satu langkah yang pernah dilakukan organisasi tersebut ialah mengusulkan Teuku Ben Mahmud sebagai Pahlawan Nasional pada 2023.


Selain itu, pada 2025 ACTION juga mengumpulkan anak-anak muda dari wilayah barat selatan Aceh untuk membahas kekayaan budaya serta bahasa daerah yang dinilai mulai tergerus perkembangan zaman.


“Kami mencoba menghadirkan ruang bagi anak muda untuk berbicara tentang kekayaan budaya dan bahasa daerah. Kalau bukan generasi sekarang yang menjaga, maka warisan budaya ini bisa hilang perlahan,” kata Aris.


Ia juga mengungkapkan perkembangan ACTION hingga memasuki usia ke-9 tidak terlepas dari dukungan sejumlah tokoh senior Aceh, di antaranya mantan Ketua Majelis Adat Aceh Badruzaman, akademisi Abdurrahman Kaoy, serta tokoh masyarakat Haji Harun Keuchik Leumik.


Dalam sarasehan tersebut, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh Kementerian Kebudayaan RI, Essi Hermaliza, hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Merawat Sejarah, Menjaga Budaya”. Dalam pemaparannya, Essi menegaskan bahwa sejarah merupakan memori kolektif bangsa, sementara budaya menjaga nilai dan cara hidup masyarakat. Menurutnya, sejarah dan budaya memiliki peran penting dalam membangun identitas serta martabat bangsa.


Ia juga menyoroti pentingnya pelestarian sejarah dan budaya sebagai investasi masa depan. Menurut Essi, hilangnya sejarah dan budaya sering kali tidak dapat dipulihkan, sehingga merawat sejarah dan menjaga budaya merupakan bentuk tanggung jawab antargenerasi.


Dalam forum tersebut, Essi turut mendorong langkah konkret pelestarian budaya di Aceh Barat Daya melalui pendokumentasian dan penelitian sejarah, pelestarian situs dan cagar budaya, revitalisasi tradisi lokal, edukasi sejarah, digitalisasi warisan budaya, hingga pengembangan museum dan ruang memori daerah.


Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penguatan narasi jalur rempah, keterlibatan komunitas dan peneliti muda, pemanfaatan sejarah untuk pariwisata budaya, serta penguatan regulasi dan kebijakan kebudayaan di daerah.


Sementara itu, Sekretaris DPP ACTION, Rozal Nawafil, turut mempresentasikan materi bertajuk “Jejak Rempah dalam Perdagangan Global: Pantai Barat Selatan Aceh dalam Perspektif The Pepper Coast”. Dalam pemaparannya, Rozal menjelaskan bahwa kawasan pantai barat selatan Aceh pernah dikenal dunia internasional sebagai The Pepper Coast atau Pantai Lada karena menjadi salah satu pusat perdagangan lada dunia pada abad ke-18 hingga ke-19.


Ia menjelaskan perdagangan lada menjadikan wilayah Barsela Aceh terhubung langsung dengan jaringan ekonomi internasional di kawasan Samudra Hindia, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika. Kawasan tersebut bahkan menjadi arena persaingan perdagangan antara VOC Belanda, EIC Inggris, dan pedagang Amerika Serikat.


Menurut Rozal, sejarah jalur rempah merupakan bagian penting dari identitas maritim Aceh yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai warisan sejarah dan budaya daerah.


Kegiatan sarasehan itu turut dihadiri Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Barat Daya, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dinas Perpustakaan dan Arsip, TP PKK Abdya, akademisi, mahasiswa, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pemerhati budaya lokal.


Melalui kegiatan “Sarasehan 9th Aceh Culture and Education” tersebut, ACTION berharap kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga sejarah dan budaya lokal terus tumbuh agar identitas Aceh Barat Daya tetap lestari di tengah perkembangan zaman dan arus globalisasi.